Editor's Vids

Kasus Jonaidi Memasuki Babak Baru

Sumenep, Juornalmadura.Com – Setelah kurang lebih satu tahun lamanya kasus Jonaidi yang merypakan anggota DPRD ngendap dimeja Badan Kehormatan DPRD setempat, kini mulai memasuki babak baru. Kemarin (7/12) BK telah melakukan sidang pleno dengan agenda pemberian sanksi.
Dengan demikian kasus Politis Partai Gerendra tersebut segera menemukan titik terang. Bahkan posisi Legislator asal daerah pemilihan (Dapil) dua itu akan segera diketahui. Apakah akan dipertahankan atau sebaliknya akan dilakulan penggantian antar waktu (PAW).
"Untuk kasus yang meninpa saudara kita (Jonaidi) sudah kami plenokan kemarin," kata Ketua BK DPRD Sumenep H Ruqi Abdillah, kemarin.
Dikatalam rapat pelno yang digelar diruang graha parupurna DPRD Sumeblnep diikuti oleh semua anggota BK. Rapat tersebut akan menentukan pangkah kongkrit yang akan dilakukan oleh BK kedepan.
"Hasilnya tadi, dalam waktu dekat akan koordinasi secara persuasif dengan petinggi partai (Gerendra). Dan juga kami akan menyuratinya nanti," terangnya.
Jonaidi merupakan anggota DPRD Sumenep hasil pemilihan legislatif (Pileg) tahun 2014. Kondisi fisik Jonaidi saat ini sedang tidak stabil. Sebab, sejak beberapa bulan setelah dirinya dilantik di Pandapa Agung, terkena penyakit stroke. Namun, hingga satu tahun kondisi fisiknya belum belum sembuh total, meskipun talah menjalani pengobatan secara medis maupun tradisional.
Lebih lanjut Ruqi mengatakan, surat teguran yang dilakukan itu merupakan langkah persuasif yang dilakukan dalam waktu dekat. Namun, jika tidak digubris, maka BK dengan tegasakan mengambil tindakan yang telah menjadi kesepakatan bersama.
"Kami memberikan tenggang waktu selama 30 hari kedepan. Jika tidak ada respon dari partai maka kami akan jatuhkan sanksi. Yakni di PAW," tegasnya.
Sanksi berat yang akan diberikan BK pada Jonaidi, bukan tidak beralasan, melainkan kasus Jonaidi selama dilantik sebagai anggota DPRD sudah tidak bisa ditoliler. Bahkan karena sakit lumpuhnya itu, Jonaidi hanya sekedar ikut rapat pripurna, tanpa menyuarakan aspirasi dari masyarakat.
Sementara Bambang Supratman selaku pelapor mengaku sangat kecewa dengan tindakan BK dalam menangani kasus tersebut. Sebab, BK terkesan lamban memprisesnya. "Bagi kami kerja BK selama ini pamban dan terkesan dipermainkan," katanya.
Menurut pria adal Dapil dua itu, semua elemen masyarakat sudah lama menunggu kebijakan dari BK. Namun BK tidak kunjung ada kejelasan. Bahkan, BK terkesan menyepelehkan persoalan tersebut.
Padahal, melihat kondisi fisik Jonaidi yang dinilai tidak ada perkembangan yang segnifikan, sudah sangat layak di PAW. Sebab, dirinya meyakini sudah tidak lagi bisa membawa aspirasi masyarakat ke gedung parlemen.

"Sudah lama kami menunggu ketegasan BK. Jangan sampai korbankan masyarkat Dapil dua ini," tegasnya. (JM)

Gedung Sains di Sumenep Menuai Kritik

Sumenep, Thejournal.Com - Penempatan gedung sains yang dibangun di area Gelanggang Olah Raga (GOR) Pangligur Sumenep menuai kritikan tajam dari sejumlah kalangan, termasuk anggota DPRD setempat. Pasalnya, penempatan pembangunan yang menghabiskan amggaran sebesar Rp 750 juta itu dinilai kurang tepat.
Sebab, pembangunan yang di danai melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tahun 2015 itu berada di areal GOR. Sehingga dinilai bertentangan dengan fungsi dan tujuan pemerintah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan bagi masyarakat pada umumnya, dan kalangan pelajar khususnya terhadap berbagai fenomena alam angkasa luar.
"Kalau dilihat dari sisi lokasi pembangunannya bisa dibilang kurang strategis," kata Jubriyanto Anggota Komisi IV DPRD Sumenep.
Menurutnya, mestinya gedung sains dibangun diluar GOR. Salah satunya diareal gedung kantor Disdik Sumenep yang baru. Dimana didepan gedung kantor Disdik yang baru dinilai sangat luas dan bisa untuk dibangun gedung tersebut.
Gedung yang bercat hijau dan yang dilengkapi dengan teleskop dan Hendayel itu, rupanya masih belum dutempati. Itu terlihat dari kondisi gedungnya yang kotor meskipun didalamnya sudah terdapat beberapa kursi.
"Kami harap adanya hangunan itu bisa difungsikan secara maksimal. Jangan sampai bangunan itu rusak sebelum memberikan manfaat," terangnya.
Sebelum dilengkapi dengan sejumlah fasilitas seperti saat ini, gedung tersebut pernah bermasalah. Bahkan penyedia jasa pengadaan kaca jendela berencana untuk membonhkarnya. Sebab, informasinya rekanan ditengarai tidak melunasi keuangan sesuai dengan kedepakatan awal. Nemun rencana pembongkaran itu tidak terlaksana setelah penyedia jasa mendapat penjelasan dari rekanan.
"Dulu kami (Komisi IV) telah meninjau lokasi pembangunan itu. Namun pada saat itu dari Disdik tidak datang. Sehingga kami tidak mendapatkan penjelasan apapun," terangnya.
Kendati demikian, pihaknya berupaya untuk mengetahui alasan penempatan gedung tersebut. Salah satunya dengan cara melakukan pembahasan secara formal yang melibatkan dari Disdik setempat. "Kami uapayakan soal itu," terangnya.
Sayangnya Kepala Disdik Sumenep A. Shadik belum bisa menjelaskan soal penempatan gedung tersebut. Sebab, saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya belum merespon hingga berita ini diturunkan. (TM).

903 Calon Pendamping Lokal Desa di Sumenep Akan Tersisihkan

Sumenep, Thejournalmadura.com - Meskipun sebaynak 1.013 orang dinyatakan lulus seleksi adminitrasi sebagai calon pendamping lokal desa, namun masih belum bisa bernafas lega. Pasalnya, ribuan calon pendamping itu masih akan dilakukan seleksi kembali.
Seleksi tahap kedua itu akan dilaksanakan pada tanggal 7 Desember 2015. Menariknya, meskipun seleksi tersebut dilakukan oleh pemerintah pusat, namun pelaksanaannya akan diletakkan di daerah. ”Untuk tes wawancaranya kami letakka di SKB Batuan,” kata Kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMP dan KB) Sumenep A. Masuni.
Dikatakan, berdasarkan hasil seleksi adminitrasi yang dilakukan pemerintah pusat, di Sumenep sebanyak 37 orang dari jumlah keseluruhan sebanyak 1.050 perserta calon pendamping lokal desa dinyatakan tidak lulus seleksi. Sehingga yang bisa mengikuti seleksi tes wasancara hanya sebanyak 1.013 orang.
Dari jumlah tersebut, nantinya akan dilakukan seleksi danakan diambil sesuai dengan kuota yang ada. Untuk Kabupaten Sumenep hanya membutuhkan tenga pendamping lokal desa sebanyak 110 orang. Asumsinya satu pendamping membawahi sebanyak tiga desa. ”Jadi, sebanyak 903 peserta nantiny akan tersisihkan,” terangnya.
Sementara kepanitiaan pelaksanaan seleksi tersebut, dilakukan oleh pemerintah pusat. Sedangkan pemerintah daerah hanya berkwajiban untuk menyedikan tempat dan sejumlah kebutuhan yang lain. ”Daerah tidak cawe-cawe dalam persolan itu. Semunya pusat yang melaksakan,” tegasnya.
Mantan Kepala Dinas Pendidikan mengatakan, saat bertugas sabnyak 110 pemdamping itu, nantianya akan dibantu oleh petugas KPM (Kader Pembanguan Masyarakat Desa) yang berjumlah sebanyak lima orang setiap desa. Rekrutmen petugas KPM itu dilakukan berdsarkan usulan dari kepala daesa. Sebab, petugas KPM disarankan diambil dari warga yang domisilinya di desa yang bersangkutan.
"Saat ini kami sudah memberikan sosialisasi bagi semua kepala desa. Sehingga kepala desa segera membentuk KPM," tegasnya.
Anggota Komisi IV DPRD Sumenep Jubriyanto menghimbau agar pelaksanaan seleksi tahap kedua dan selanjutnya dilakukan secara transparan dan profesioal.
”Siapapun yang melaksankannya, kami harap dilaksankan sesuai prosedur yang ada,” harapnya.
Menurutnya, dirinya selaku wakil rakyat tidak menginginkan pelaksanaan seleksi tersebut hanya sebatas formalitas belaka. Sebab, dilihat dari tugas yang harus dilaksakan sangat berat karena berkaitan langsung dengan anggran pemerintah.
Jika dalam perencanaan keuangan dan juga realisasinya amburadul, dimungkinkan terjadinya tidakan yang melawan hukum. Semantara tindakan yang melawan hukum bisa dipastikan masuk ke ranah idana.
”Kami tidak ingin itu terjadi. Dan juga kami tidak ingin ada kata panita gagal melakukan seleksi dikemudian hari,” tukasnya. (TM)

Tanean Lanjeng, Nilai Kekerabatan Masyarakat Madura

Masyarakat Madura di kenal sebagai masyarakat yang menjungjung tinggi tali kekerabatan. Simbol-simbol yang mendukung hal ini, bisa di lihat dari rumah adat yang sebagian besar masih terpelihara dengan rapi di berbagai pelosok di Madura, seperti yang terdapat di desa pamaroh kecamatan kadur pamekasan Madura.Halaman panjang atau yang terkenal dengan sebutan Tanian Lanjang adalah bukti kekerabatan masyarakat Madura.

 Tanian Lanjeng terbentuk karena sejumlah rumah di tata berjejeran dengan rumah induk yang berada di tengah-tengah.Rumah induk ini biasanya, di tandai dengan jengger ayam di atapnya. Rumah induk, ditempati orang tertua pada keluarga tersebut. Orang tertua ini kemudian di sebut kepala somah. Ibarat raja kecil, kepala somahlah yang menguasai semua kebijakan keluarga, terutama menyangkut masalah perkawinan.

Rumah adat Madura, hanya memiliki satu pintu di depan. Hal ini dimaksudkan, agar pemilik rumah, dapat mengontrol aktifitas keluar masuk keluarga. Pintu ini dihiasi ukiran-ukiran asli Madura, dengan warna hijau dan merah, lambang kesetiaan dan perjuangan.

Sebuah lukisan bunga, juga tampak menghiasi dinding depan rumah. Lukisan ini, menggambarkan keharmonisan keluarga, sebuah impian rumah masa depan yang bahagia.

Di samping kanan dan kiri rumah induk, di bangun rumah untuk anak-anaknya. Anak tertua, menempati rumah sebelah kanan. Sedangkan yantg lain, menempati rumah sebelah kiri. Biasanya, rumah induk, di tandai dengan hiasan 2 cengger ayam yang ada di atas atap, dengan posisi berhadapan, mirip batu nisan sebuah makam. Hiasan ini mengingatkan penghuni rumah pada kematian, yang pasti di jalani oleh setiap mahluk hidup. Di bagian dalam rumah, berdiri 4 buah pilar penyanggah yang tampak kokoh. Pilar-pilar ini, terhubung satu dengan lainnya, sehingga membentuk sebuah bujur sangkar. Pilar-pilar ini, kemudian di sebut dengan pilar pasarean.

Sejumlah perabotan keluarga, juga masih tampak terpelihara di bagian dalam rumah ini. Di antaranya, sebuah bayang besar, terbuat dari kayu jati dengan ujung sebelah kiri lebih tinggi, yang berfungsi mengganjal kepala, agar bisa ber-isitirhat, melepas kepenatan tubuh.

Tampak pula sebuah tombak tradisional Madura yang masih terpelihara dengan baik. Tombak ini merupakan senjata tradisionil Madura, dalam mempertahankan ke utuhan keluarga.

Setiap rumah data, di lengkapi dengan sebuah surau. Surau ini, disamping berfungsi sebgai tempat sholat, juga menjadi tempat bagi Kepala Somah, untuk memantau orang-orang yang keluar masuk halamannya. Orang Madura menyebut surau ini dengan langgar.

Atap surau adat, menggunakan daun ilalang yang membentang memayungi penghuninya dari air hujan dan sengatan matahari.

sumber: http://www.berita86.com/

Budaya Madura Tergerus Modernisasi

Sumenep, Thejournalmadura - Pemerintah Daerah Kabupaten (Pemkab) Sumenep dinilai kirang gereget mempertahankan budaya madura. Buktinya, di kabupaten yang berada di ujung timur pulau madura ini, banyak budaya khas madura yang nyaris punah. Salahsatunya bentuk bangunan perkantoran saat ini banyak menggunakan bentuk minimalis.
"Disadari atau tidak, cirikhas madura di Sumenep sudah banyak yang ditinggalkan," katanya.
Politisi asal kepulauan itu, salah satu faktor terpendemnya budaya lokal itu karena minimnya uapaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mempertahankan budaya lokal dinilai masih minim. Sehingga dengan pesatnya perkembangan tekhnologi menyebabkan budaya madura nyaris punah.
Menurutnya, untuk mempertahankan budaya lokal tersebut perlu ada campur tangan pemerintah daerah. Salah satunya membiasakan memakai bahasa madura dilingkungan keperintahan pada saat hari-hari tertentu.
Selain itu, setiap penunjuk arah jalan selain menggunakan bahasa Indonesia, bisa juga menggunakan bahasa madura. Yang tak kalah penting kata Imran, pemerintah daerah segera menciptakan regulasi hukum terkait pemeliharaan budaya lokal.
"Kami yakin kalau sudah ada payung hukum yang jelas, budaya madura tidak akan tergerus midernisasi," katanya.
Terpisah Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Sumenep Hadi Soetarto tidak menampik jika pemerintah daerah untuk mempertahankan budaya lokal belum maksimal. Kedepan pemerintah daerah aoan mengupayakan untuk membangun sinergitas budaya lokal.
Salah satunya, dengan cara memberlakukan bahasa madura dihari-hari tertentu saat jam dinas, termasuk akan memakai bahasa madura disetiap penunjuk arah. "Semua ini sudah kami gagas," katanya.
Kendati demikian, menurutnya belum adanya pemberlakuan bahasa madura dijajaran kepemerintahan, bukan mengindikasikan jika pemerintah daerah telah menafikan budaya lokal. Sebab, pemerintah daerah setiap kegiatan pernah menggunakan bahasa madura. Seperti saat pegelaran uapacara peringatan hari jadi kabupaten sumenep.
Dalam uapacara tersebut, selain menggunakan bahasa madura semua peserta upacara dari jajaran pegawai negeri sipil (PNS) menggunakan kostum ala kraton. Yakni dengan menggunakan jas warna hitam, odeng, dan juga aksesoris yang biasa dipakai oleh raja dan adipati tempo dulu.
Pemakaian bahasa madura dalam pelaksanaan uapara tersebut, Pemrintah daerah mendapat kritikan. Sebab, pemakaian bahasa dalam uapacara sudah ada aturan resmi yang harus ditaati bersama.
"Sudah tiga tahun saat uapacara hari jadi menggunakan bahasa madura. Katanya dalam upacara ada tune-nya yang harus ditaati. Tapi kalau dalam sambutannya menggunakan bahasa madura tidak apa-apa. Ini akan kami lestarikan kedepan," tegasnya.
Bahkan untuk mempertahankan budaya madura, pemerintah daerah telah menetapkan areal Asta Tinggi, di Desa Kebonagung, Kecamatan Kota Sumenep, sebagai kawasan sentra industri kreatif bercitra budaya.
"Selain itu, kedapan pemerintah daerah juga akan mempertahankan banguanan cirikah madura, termasuk bangunan perkantoran," tukasnya. (TM)

Amankan Pilkada, Polres Sumenep Terjunkan 946 Personel

Sumenep, Thejournalmadura.Com - Mendekati pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) tahun 2015 Kepolisian Resort (Polres) Sumenep telah menerjunkan sebanyak 496 personel ke daerah kepulauan. Ratusan personel tersebut akan ditugaskan untuk mengamankan alur pilkada yang bakal berlangsung pada tanggal 9 Desember 2015.
Hal itu dikataTMh Kapolres Sumenep AKBP Rendra Radita Dewayana melalui Kasubag Humas Polres Sumenep AKP Hasanuddin, Ahad (6/12). Menurutnya, ratusan personel tersebut merupakan gabungan antara Brimob Polda Jawa Timur (Jatim) dan anggota Polres Sumenep.
Adapun jumlah personel dari Polres Sumenep yang telah dikirm ke daerag kepulauan sebanyak 296 personel, sementara 200 personel yang lain merupakan anggota Brimob Polda Jatim.
"Hari ini (kemarin) ratusan personel sudah dikirim secara serentak," katanya.
Kabupaten Sumenep merupakan salah satu Kabupaten yang bakal melaksanakan Pilkada secara serentak di tahun 2015. Secara wilayah, Kabupaten Sumenep terbagi dalam dua wilayah, yakni wilayah kepulauan yang terdiri sebanyak 8 Kecamatan dan wilayah daratan yang terdiri dari 19 Kecamatan.
Dikatakan, untuk Brimob akan dikirim untuk mengawal di Pulau Kangean dan Pulau Raas, sedangkan sebanyak 196 anggota Polres Sumenep dikirim ke Pulau Sapeken, Pulau Raas, Pulau Sepudi. Sedangkan 100 anggota Polres lainnya distandbykan di Pulau Talango.
Perwira dengan pangkat dua melati di pundaknya itu mengatakan, saat menjalankan tugasnya, ratusan persobel itu menyebar disemua tempat pemungutan suara (TPS). Mereka akan bertugas untuk menjaga situasi pelaksanaan Pilkada juga bertugas sebagai pengamanan dalam pengiriman kotak suara ke masing-masing TPS.
Lebih lanjut Mantan Kapolsek Manding itu mengatakan, saat bertugas sebagian anggota diengkapi dengan sejumlah perlengkapan persenjataan. Sebab, untuk daerah kepulauan termasuk wilayah yang rentan terjadinya tindak pidana.
"Kami tidak ingin pelaksanaan Pilkada saat ini terganggu. Kami ingin pelaksanaan Pilkada berlangsung dengan aman, tertib, dan damai," tegasnya.
Sesuai Peraturan KPU RI Nomor 2 Tahun 2015, pilkada serentak pada tahun ini termasukPilkada Sumenep akan digelar pada 9 Desember.
Pilkada di Sumenep diikuti dua pasangan calon bupati dan calon wakil bupati, yakni A Busyro Karim-Ahmad Fauzi, nomor urut satu (1), diusung koalisi PKB-PDI Perjuangan dan NasDem, sedangkan pasangan Zainal Abidin-Dewi Khalifah, nomor urut dua (2) diusung 8 parpol yakni Partai Demokrat, PAN, PKS, PPP, Gerindra, Hanura, Golkar dan PBB. (TM)

Mengenal Lebih Dekat Pulau Sapeken

Kenapa dinamakan pulau Sapeken, kerena menurut cerita nenek moyang pualau tersebut yang mayoritas berasal dari Sulawesi Selatan dengan bahasa keseharianya yaitu bahasa Bajo. Bahwa dulu nenek moyang mereka terdampar kepulau tersebut dan tidak dapat keluar dari pualau tersebut selama satu pekan. Nah dari kata satu pekan itulah nama pulau itu diambil menjadi Sapeken yang artinya satu minggu. kalau orang madura menamakan Sepekan.
Karena nenek moyang tersebut dari sulawesi Selatan maka bahasa resmi keseharian yang digunakan yaitu bahasa Bajo. Sebenarnya plural sekali suku yang menempati pullau tersebut ada dari Makasar, Jawa, Madura, Sunda bahkan dari aceh pun ada. Kepadatan penduduk dipicu karena pulau sapeken sendiri berada pada letak yang stategis dengan dikelilingi pulau-pulau besar seperti pulau Kangean, Pulau Paliat, Pulau Pagerungan kecil dan Pagerungan Besar, pulau Saur dan pulau Sakala. Kalau anda tahu pulau Batam nah seperti itulah kedudukan pulau Sapeken. Walaupun luasnya kira-kira setengah ITS, pulau Sapeken mempunyai jumlah penduduk yang tinggi yaitu sekitar 12.600 jiwa. Bayangkan bagaimana kepadatan di pulau tersebut.
Sulit mengatakan keadaan ekonomi pulau tersebut. Mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai nelyan dan pedagang. Ditinjau dari segi bentuk rumah mayoritas berbentuk rumah panggung yang kelihatanya bisa dikatakan rumah yang sederhana sekali. Mereka membuat rumah panggung karena dulu pada waktu air laut pasang sampai masuk ke rumah penduduk. Kembali ke masalah ekonomi. Bila ditinjau dari segi kepemilikan isi perabotan rumah tanggah, mereka termasuk orang orang yang mampu. mayoritas mereka mempunayai TV 21 inc, kulkas, Hp yang minimal ada kameranya. Maklum mereka mudah mencari uang tinggal pergi melaut dapat ikan dijual sudah dapat pendapatan. Kalau uangnya masih banyak ya…pergi ke kota belanja. Umumnya mereka pergi ke kota Singaraja karena untuk perjalan hanya dapat ditempuh kira-kira 6 jam.
Geografi dan Demografi
Pelabuhan Sapeken
Kecamatan Sepeken mempuanyai luas total wilayah 201,88 Km 2 (9,64 % dari luas Kabupaten Sumenep). Jumlah Desa di Kecamatan Sepeken sebanyak 9 desa antara lain. Selain itu terdapat juga beberapa pulau yang masih masuk wilayah administrasi Kecamatan Sepeken. Jumlah pulau terdiri dari 53 terdiri dari 21 pulau berpenghuni, 32 pulau tidak berpenghuni.
Kecamatan Sepeken berbatasan dengan laut dan kecamatan lain. Pada sisi sebelah utara dibatasi oleh Laut Kalimantan, sebelah selatan dibatasi Laut Bali, sebelah timur dibatasi oleh Laut Sulawesi, sebelah barat dibatasi oleh Laut Jawa. Jumlah penduduk Kecamatan Sepeken secara keseluruhan berjumlah 37.765 jiwa (Bappeda Kab. Sumenep, 2003). Komposisi penduduk Kecamatan Sepeken terdiri dari laki-laki sebanyak 18.677 jiwa (49,46 %) dan perempuan 19.088 jiwa (50,54 %). Rasio jenis kelamin sebesar 97,85 % dengan kepadatan penduduk sebanyak 187,06 jiwa/Km 2.
Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang tersedia di Kecamatan Sepeken meliputi perhubungan, penerangan listrik, komunikasi, air bersih, perdagangan, pendidikan, kesehatan, sarana ibadah, kantor pemerintah, dan lembaga keuangan.
Sarana dan prasarana perhubungan berupa jalan, darmaga, dan sarana angkutan. Panjang jalan darat secara keseluruhan sepanjang 39,341 Km dengan kondisi jalan rusak 9,53 %. Sarana angkutan darat bermotor terdiri dari truck, pick up, sepeda motor dan tidak bermotor terdiri dari becak dan sepeda. Sarana lain yang terdapat di Kecamatan Sapeken adalah darmaga/pelabuhan terdapat di Desa Sepeken, Pegerungan kecil dan besar, Sabunten, Paliat, Sasili, sepanjang dan Sakala. Selain itu juga terdapat air port (bandara) yang terdapat di Pulau Saor Desa Sapeken.
Penerangan listrik di Kecamatan Sepeken sebagian besar sudah menggunakan PLN. Jumlah RT yang memakai PLN sebanyak 1.029 RT terdapat di sebagian besar desa dan non PLN sebanyak 309 RT terdapat di Desa Pagerungan kecil dan besar. Sarana komunikasi juga tersedia cukup lengkap antara lain kantor pos 1 unit, wartel 18 unit, telkom 1 untit, telpon rumah tangga 278 RT dan telpon umum sebanyak 18 RT.
Sarana air bersih di Kecamatan Sepeken sangat mengandalkan air sumur. Seluruh desa sebanyak 9 RT memanfaatkan air sumur sebagai sumber air bersih. Untuk aktivitas perdagangan Kecamatan Sepeken dilengkapi dengan pasar desa. Sedangkan untuk pengembangan sumberdaya manusia, Kecamatan Sepeken dilengkapi dengan sarana penddikan yang cukup lengkap. Hal itu tercermin dari ketersediaan sarana pendidikan yang cukup merata pada semua level pendidikan. Jumlah TK sebanyak 19 unit, SD sebanyak 32 unit, MI sebanyak 30 unit, SMP sebanyak 3 unit, MTs sebanyak 3 unit, dan MA sebanyak 1 unit.
Sarana kesehatan di Kecamatan Sepeken terdiri dari Puskesmas, Puskesmas pembantu dan BKIA/Polindes. Puskesmas berjumlah 1 unit terdapat di Desa Sepeken. Sedangkan puskesmas pembantu berjumah 5 unit menyebar di beberapa desa. Sedangkan Polindes sebanyak 6 unit terdapat di sebagian besar desa.
Seluruh masyarakat di Kecamatan Sapeken memeluk agama Islam. Sarana ibadah meliputi mesjid sebanyak 31 unit, surau/musholla sebanyak 96 unit. Untuk tata administrasi pemerintahan di kecamatan Sepeken sarana kantor desa baru sebagian kecil ada. Sedangkan sebagai penggerak ekonomi dan keuangan di Kecamatan Sepeken juga sudah teredia lembaga keuangan yaitu koperasi simpan pinjam sebanyak 3 unit.
Perekonomian
Sektor penggerak perekonomian Kecamatan Sepeken meliputi bidang pertanian tanamangan pangan, kehutanan dan perkebunan, peternakan, perikanan, industri, energi dan pertambangan serta wisata.
Produk-produk pertanian tanaman pangan meliputi padi, jagung dan ubi kayu. Produksi pertanian tanaman pangan masih didominasi oleh jagung, ketela pohon, kacang hijau, kacang tanah dan padi. Bidang kehutanan dan perkebunan terdiri dari kelapa, mente, mangga, pinang, pepaya dan pohon jati. Produk kehutanan dan perkebunan didominasi oleh kelapa. Bidang peternakan terdiri dari sapi, kuda, kambing, ayam dan itik/bebek. Bidang peternakan didominasi oleh sapi. Sedangkan bidang lainnya meliputi bidang industri (industri kecil makanan/minuman, Meubel, kimia dan minyak bumi dan industri kecil tas). Bidang lain yang tidak kalah pentingnya adalah bidang energi dan pertambangan terdiri dari tambang gas dan minyak bumi/gas alam. Selain itu bidang yang potensial berkontribusi terhadap perekonomian adlaah bidang pariwisata yaitu berupa wisata budaya, alam dan konservasi.
Khusus untuk bidang perikanan, potensi yang dimiliki Kecamatan Sepeken meliputi penangkapan ikan di laut, budidaya, perdagangan dan pengolahan. Hasil penangkapan ikan di laut antara lain ikan karang, ikan hias, layang, kepiting, dan kerang. Usaha penangkapan ikan didukung oleh armada tangkap berupa perahu bermotor 2.399 unit yang terdapat di seluruh desa dan tidak bermotor 1.214 unit .
Selain perikanan tangkap, bidang perikanan lainnya yang cukup berkembang yaitu budidaya perikanan dan pengolahan hasil perikanan. Jenis budidaya perikanan yang terdapat di Kecamatan Sapeken adalah budidaya laut meliputi budidaya rumput laut (Pulau Sapeken), budidaya ikan karang (P. Sapeken, P. Sibatok, P. Saular dan P. Sadulang kecil), budidaya layang (P. Sapeken) dan budidaya mutiara (P. Sepangkur besar dan kecil, P. Sabunten dan P. Paliat). Budidaya laut lainnya yang banyak terdapat di Kecamatan Sapeken adalah Budidaya penyu, budidaya kepiting (P. Sepangkur dan P. Sasil), budiadya mangrove (P. Bangkau) dan Budidaya terumbu karang (P. Saor).
Suku Bajo Terpadat di Dunia.
Kendati sempit, pulau ini dihuni oleh sekitar 12.600 jiwa. Dari jumlah itu, penduduk Suku Bajo berdasarkan Sensus Penduduk yang dilakukan Badan Pusat Statistik tahun 2000 berjumlah sekitar 5.526 orang. Bisa dibayangkan, inilah Suku Bajo dengan populasi terpadat di Indonesia dan dunia.
Menurut Antropolog asal Jepang yang mendalami Suku Bajo, Prof Nagatzu Kazufumi, populasi Suku Bajo di seluruh dunia tercatat sekitar 1,1 juta orang. Mereka tersebar di daerah- daerah pantai di Pulau Sulu (Filipina), pantai Sabah (Malasyia), dan Indonesia.
Di Indonesia, Suku Bajo tersebar di berbagai pulau-pulau kecil dan pantai seperti di Provinsi Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulewesi Selatan, Jawa Timur, dan lain-lain. Lalu, dari manakah Suku Bajo berasal, Indonesia atau Filipina? Kalau pertanyaan tersebut ditujukan pada masyarakat Bajo, umumnya mereka serempak bakal menjawab tidak tahu. Maklum, gaya hidup mereka yang selalu berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lainnya membuat generasi sekarang ini seolah kehilangan nenek moyang mereka.
Manusia Laut Menurut Kazumi dalam karya ilmiahnya yang diterbitkan jurnal Hakusan Review of Anthroplogy edisi ke-13 (Maret 2010), ada dua hipotesa menyangkut asal mula Suku Bajo. Pertama, diajukan ahli geografi ternama D.E. Sopher yang telah dipublikasikan dengan judul Th e Sea Nomads atau Manusia Laut yang Berpindah-pindah (1977).
Menurutnya, secara periodik Suku Bajo bermigrasi dari Pulau Lingga (Riau) sejak abad ke-14 sampai abad ke-17 menuju pantai barat Kalimantan. Dari sini mereka lalu menyebar ke Sulu (Filipina) dan pantai-pantai di Pulau Sulawesi. Kalau melihat hipotesa Sopher tersebut, bisa jadi asal mula Suku Bajo berawal dari Pulau Lingga, yang sekarang secara administrasi berada di Provinsi Riau Kepulauan. Lain lagi dengan hipotesa yang diajukan ahli lingusitik AK Pallesen dan ahli etnografi HA Nimmo.
Dilihat berdasarkan bahasa yang dipakai kelompok tersebut, Pallesen dan Nimmo berpendapat, Suku Bajo berasal dari Mindanao, Filipina. Menurutnya, pada abad ke-10 itulah mereka lalu menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Terlepas dari asal mulanya, keberadaan Suku Bajo di Indonesia tergolong unik. “Mereka hanya mendiami kawasan pantai yang memiliki potensi ikan yang berlimpah.
Hasil riset Nagatsu menunjukkan, dimana ada Suku Bajo tinggal, di situlah dasar lautnya memiliki kualitas terumbu karang yang masih terjaga dengan baik,” ujar Prof Dr Aris Poniman, profesor riset yang baru-baru ini mendalami distribusi spasial Suku Bajo di Indonesia. Begitu juga keberadaan Suku Bajo di Pulau Sapeken. Riset memang membuktikan, perairan di Sapeken, Kangean, dan sekitarnya masih memiliki terumbu karang yang bagus.
Kelimpahan terumbu karang inilah yang menjadi daya tarik bagi beragam jenis ikan untuk memijah, membesarkan, tempat bermain bagi anak-anak ikan, berlindung, mencari pakan, dan lain-lain. Singkat kata, terumbu karang yang baik menunjukkan kelimpahan biota laut yang besar. Begitu juga sebaliknya, terumbu karang yang hancur hanya menyisakan padang pasir yang sunyi dari kehidupan biota laut.
Itulah sebabnya, tak ada Suku Bajo yang tinggal di pesisir utara Jawa. Mereka tahu, selain terumbu karang sudah hancur, perairannya juga kotor akibat parahnya pencemaran dari hasil aktivitas manusia di daratan Pulau Jawa. Kondisi semacam ini jelas sangat sulit untuk memburu ikan, udang, lobster, dan lain-lain.
Terdampar di Sepekan
Lalu dari manakah Suku Bajo yang sekarang ini menetap di Pulau Sapeken? Berdasarkan beberapa kajian, menilik bahasa dan logat yang dipakai, mereka berasal dari Sulawesi Selatan. Konon, menurut cerita dari mulut ke mulut, mereka terdampar di pulau tersebut dan tidak dapat keluar selama satu pekan (satu minggu).
Dari sinilah lalu pulau kecil itu dinamakan Pulau Sapeken. Kini, pulau tersebut didominasi komunitas Suku Bajo. Hampir separo dari jumlah penduduk itu dihuni oleh Suku Bajo. Sisanya, berasal dari Suku Bugis, Madura, Jawa, Bali, Sunda, dan Aceh. Seluruh penduduk tersebut memeluk agama Islam. Kendati kegiatan kebudayaan didominasi oleh Suku Bajo, mereka tetap hidup rukun dan damai.
Ini dikarenakan mereka tetap menjunjung tinggi budaya dan adat suku lainnya seperti Madura, Jawa, Bali, dan Bugis. Bagi Suku Bajo, tinggal di Pulau Sapeken memiliki kenyamanan tersendiri. Selain perairannya masih bersih, lingkungan ekosistem lautnya juga masih sehat. Letaknya juga terbilang strategis, yakni dikelilingi pulau-pulau Kangean, Pagerungan Kecil, Pagerungan Besar, Saur, Sakala, dan lain-lain.
Kondisi geografis semacam ini cocok bagi Suku Bajo yang memiliki matapencaharian sebagai nelayan. Apalagi ada pelabuhan yang digunakan untuk melayani pulau-pulau di sekitarnya. Tak jauh dari situ, ada juga eksplorasi minyak berskala komersial. Komplit sudah, di dasar laut memiliki keragaman hayati tinggi.
Sementara itu, di bawah dasar laut terdapat cadangan minyak bumi yang berlimpah ruah. Meskipun diselimuti potensi sumber daya laut berlimpah, namun kehidupan di Pulau Sapeken tergolong sederhana. Coba lihat bentuk tempat tinggalnya, berupa rumah panggung dengan bahan lokal seadanya. Rumah panggung dibuat untuk menghindari pasang laut agar air tidak menerobos masuk ke rumah. Alat transportasinya becak, sepeda motor, dan gerobak kecil untuk mengangkut hasil tangkapan ikan ke pasarpasar tradisional.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka lebih memilih ke Banyuwangi (Jawa Timur) dan Singaraja (Bali) daripada Kalianget (Sumenep, Madura). Maklum, waktu tempuh ke Banyuwangi dan Singaraja jauh lebih cepat. Jika ombak tenang, perjalanan bisa ditempuh dalam waktu 6 jam. Namun jika sedang berombak tinggi, perjalanan tersebut perlu waktu 9 jam.
Kemelaratan Hidup Masyarakat Pulau Pagerungan
Rumah Adat
Pagerungan adalah pulau kecil pada gugusan kepulauan Sapeken. Pulau ini terletak di sebelah timur laut  Pulau Madura. Dengan perjalanan menggunakan perahu bermesin diesel, pulau ini dapat ditempuh sekitar 8 jam dari Sumenep. Meskipun letaknya terpencil, Pulau Pagerungan menawarkan penorama tropis yang eksotik di tengah-tengah pergulatan warganya didalam menggantungkan hidupnya pada laut.
Meskipun Pulau Pagerungan ini masuk wilayah kabupaten Sumenep, namun kebudayaan setempat seperti rumah  adat,  cenderung  berkiblat pada Suku Bajo yang terdapat di Sulawesi. Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari pun mereka menggunakan Bahasa Bajo yang berbeda jauh dengan Bahasa Madura.
Pulau ini tidak terlalu luas. Membentang sekitar tiga kilometer. Sehingga kalau kita berjalan mengikuti garis terluar pantai maka waktu yang dapat ditempuh untuk mengelilingi pulau ini hanya sekitar satu jam perjalanan. Jumlah penduduknya pun kurang lebih seratus  kepala keluarga. Fasilitas umum pulau ini sangat terbatas, hanya ada sebuah masjid, sebuah Sekolah Dasar Impres, beberapa kios pedagang dan sebuah klinik kesehatan yang temboknya sudah retak dan dipenuhi dengan lumut.
Anak-anak di pulau ini setelah lulus SD, untuk melanjutkan SMP mereka harus sekolah di pulau seberang yakni Pulau Pagerungan Besar. Setiap pagi mereka berangkat ke sekolah secara bergerombol dengan menaiki sebuah perahu kecil bermesinkan diesel. Dan menjelang siang  ketika mereka pulang, perahu yang mengangkut murid-murid SD tersebut tiba kembali disertai tawa riang suara mereka.  Sedangkan kalau melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi, setingkat SMA, maka mereka harus menyeberang ke Pulau Sapeken yang dapat ditempuh dua jam perjalanan.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari warga pulau ini menggantungkan laut sebagai mata pencaharianya. Mayoritas warganya adalah Nelayan, sisanya  pedagang dan guru. Sedangkan bercocok tanam hanya sebagai sampingan saja, ketika tidak melaut. Karena masih menggunakan cara-cara tradisional, maka para nelayan disini masih tergantung pada musim. Kalau angin sedang kencang dan ombaknya besar maka nelayan disini tidak melaut. Biasannya pada musim itu mereka lebih suka untuk memperbaiki jaring yang rusak maupun mengecat perahu yang mereka galang ditepian pantai. Sambil diiringi sayup-sayup suara radio mereka membersihkan perahu yang kayunya banyak ditempeli kerak karang laut maupun  lumut. Mereka membersihkannya dengan senang hati mengisi kekosongan waktu ketika istirahat melaut.
Tidak seperti nelayan di Jawa yang sudah menggunakan perlengkapan radar pencari ikan dan perahu besar, nelayan disini masih menggunakan perlengkapan tradisonal. Mereka mengandalkan pancing dan jaring payang untuk menangkap ikan. Sehingga hasil tangkapannya pun untung-untungan. Kalau sedang mujur biasannya mendapat tangkapan banyak. Sebaliknya kalau buntung, seekor ikan pun tidak berhasil mereka tangkap.  Perahu yang mereka gunakan pun masih tergolong perahu kecil  yang hanya mampu memuat sepuluh orang. Dan sebagian lagi masih mengandalkan layar guna melaut, tanpa dilengkapi mesin. Ketika di tepi pantai mereka menggunakan dayung, dan ketika angin berhembus cukup baik, layar baru dikembangkan yang akan membawanya ke tengah laut. Sedangkan perahu Nelayan di Jawa mayoritas sudah menggunakan mesin lebih dari satu. Seperti model perahu Pursin yang mampu menampung awak lebih dari dua puluh orang. Bahkan perahu Pursin nelayan Pekalongan Jawa Tengah  sudah dilengkapi dengan tiga buah mesin standar 200 PS mampu memuat tiga puluh nelayan lebih dengan muatan  40-an ton.
Ketika bulan purnama tiba, ssewaktu para nelayan tidak ada melaut, maka warga akan berkumpul didepan rumah. Mereka bergerombol sambil saling bercerita. Sedangkan anak-anak kecil bermain-main dihalaman rumah. Ada yang main kejar-kejaran maupun bermain gelang karet. Sementara itu ombak terus berdebur tiada hentinya, mengikis pasir yang kelihatan penuh gemerlapan. Di tengah-tengah laut, sinar rembulan  terpantul membiaskan   seberkas cahaya. Laut seolah-olah bermandikan cahaya. Perahu nelayan tertambat rapi, dipinggir dermaga kayu, terombang-ambing oleh gelombang pasang air laut. Pohon kelapa  sepertinya menari-menari diterpa angin yang tidak terlalu kencang. Di sebuah rumah tampak suara-suara orang bercengkrama, sesekali terdengar suara tawa. Itulah salah satu rumah yang menjadi tempat berkumpul warga Pulau Pagerungan. Mereka menghabiskan malam-malam yang hanya diiringi deburan ombak pantai yang tak kenal lelah dan suara-suara serangga yang mengerik. Suasananya jauh dari kebisingan knalpot kendaraan dan lalu lalang hentakan langkah manusia yang mengadu nasib ditengah-tengah kerasnya kota metropolis.
Harapan bagi penduduk pulau Pagerungan ini adalah adanya perbaikan sarana dan prasarana  yang memadai, seperti Transportasi maupun fasilitas-fasilitas umum. Baik fasilitas listrik, sarana pendidikan dan kesehatan maupun jalan. Apalagi panorama pulau ini masih alami, sehingga  potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan pariwisata sangat terbuka lebar.  Hamparan pasir putihnya dengan terumbu karang yang tersebar diperairan adalah pesona yang tak terkira, keramah tamahan penduduknya  menjadi salah satu daya tawar yang cukup menarik bagi para wisatawan. Belum lagi potensi perikanan yang ada dikawasan ini yang masih cukup besar, dan belum dikembangkan secara modern.  Aset tersebut selayaknya dijaga kelestariannya. Mengingat banyak terumbu karang yang berada pulau-pulau disekitar kondisinya sudah sangat memperihatinkan. Pulau itu sepatutnya mendapat perhatian serius bagi pemerintah daerah setempat sebagai sebuah sorga yang terlupakan, sorga yang harus diselamatkan dan diberdayakan sehingga akan menjadi sorga sebenarnya.

Sumeber : http://octadiansyah.blogspot.co.id/2015/02/latar-belakang-pulau-sapeken.html

Asal Mula Desa Arjasa Kangean

Dahulu kala ditemukan sebuah pulau yang terletak di belahan timur kabupaten sumenep, Yang kini dikenal dengan pulau “KANGEAN “. Oleh raja sumenep, pulau ini dijadikan tempat orang-orang yang mendapatkan hukuman berat karena kesalahan yang sangat besar. Tempat ini juga merupakan tempat  para perompak pada zaman dahulu kala. Tidak hanya perompak, namun para bajak laut dan preman-preman yang mendiami pulau tersebut pada waktu itu .Orang-orang ketika itu menyebutnya dengan pulau kangean karena ketika air laut pasang , pulau itu tidak akan tampak dari kejauhan. Tetapi ketika air surut, Pulau ini akan tampak seperti muncul kepermukaan. Banyak versi yang menyatakan filosofi mengenai pulau ini, diantaranya seperti yang akan dipaparkan untuk selanjutnya. Pulau kangean ini beribukota “Arjasa”, Kota Arjasa sebagai kota kecamatan di pulau kangean.  Nama “Arjasa” yang menjadi nama kecamatan dan desa pada masa kini yang terletak di pulau kangean ini, desa yang menjadi pusat pemerintahan di pulau kangean tersebut, dikarenakan letaknya berada ditengah-tengah pulau kangean.
  1. Ada beberapa hal yang menjadikan pertimbangan Mengenai Nama Arjasa yang dipilih menjadi pusat pemerintahan ketika itu ialah memiliki beragam versi, diantaranya selain tempat itu terletak di tengah-tengah pulau kangean; Dikarenakan Nama Raja yang berawal menjadi arja yang memerintah pada masa itu , kemudian diberitambahan Sa. Arjasa juga menjadi nama sebuah kota di JawaTimur, diantaranya Kota situbondo, dan jember. Mungkin nama itu dipakai untuk nama kembar karena ada keterkaitan sejarah. Kemungkinan juga ada kaitannya Ketika Raja Ken Arok menjadi raja dengan nama Prabu Rajasa, Nama itu dekat dengan nama arjasa. Kemudian Bangsawan keraton sumenep yang biasanya Arja atau Te-arja, sehingga nama itu digunakan untuk nama arjasa, tidak ada sumber  yang memenuhi syarat untuk dijadikan kajian yang akurat, baik dalam bentuk kepustakaan, maupun narasumber, sebab nama itu telah dikenal ratusan tahun yang lalu, Sejak terbentuknya kerajaan Sumenep di bawah pimpinan Arya Wiraraja. Ada beragam versi yang menceritakan tentang desa ini.
Versi yang pertama, Konon Nama desa arjasa Berasal dari nama seorang putra Raja sumenep. Konon dahulu terdapat raja yang bijaksana yang bernama  Arya Wiraraja di daerah sumenep. Pada masa pemerintahannya sangatlah damai dan sejahtera, beliau memiliki putra yang bernama arya jasa. Pada suatu hari di kerajaan itu terjadi sebuah permasalahan yang tak kunjung bisa dipecahkan , sehingga sang raja pun begitu kebingungan untuk mencari cara bagaimana permasalahan ini bisa dipecahkan. Pada suatu malam sang raja bermimpi, didalam mimpi tersebut beliau mendapatkan sebuah petunjuk tentang permasalahan yang telah terjadi di kerajaannya tersebut.
Di dalam mimpi itu beliau diminta agar mengutus putranya untuk pergi bertapa ke sebuah pulau yang terpencil di belahan timur kabupaten sumenep, Tepatnya daerah pulau kangean. Keesokan paginya, sang raja memanggil Arya jasa untuk menyampaikan isi dari mimpinya tersebut kepada arya jasa. Raja memerintah putranya untuk bertapa di daerah belahan timur pulau kangean yang sekarang dikenal oleh masyarakat sebagai desa “patapan” , Desa ini dinamakan desa patapan dikarenakan tempat tersebut merupakan tempat pertapaan sang arya jasa guna mencari petunjuk yang telah dipetuahkan oleh romonya itu, Agar bisa menemukan kekuatan karena di masa itu terjadi kekacauan dalam pemerintahan nya. Dengan kepatuhannya terhadap ayahandanya arya jasa pun melaksanakan apa yang diperintahkan oleh ayahandanya tersebut, walaupun apa yang menjadi perintahnya itu belum begitu jelas baginya dan dia pun belum mengerti akan apa yang harus dilakukan untuk selanjutnya. Arja jasa turut perihatin akan apa yang tengah terjadi di kerajaannya itu, sehingga dia dengan semangat dan gigih melaksanakan apa yang sudah diperintahkan oleh ayahandanya tersebut. Arya jasa pun meninggalkan kerajaan dan pergi untuk melaksanakan petuah dari ayahandanya tersebut.
Setelah sekian lamanya  bertapa, arya jasa mendapatkan semacam petunjuk mengenai kekuatan itu. Petunjuk tersebut meminta agar arya jasa pergi mengembara mengelilingi pulau kangean tersebut. Kemudian arya jasa pergi mengembara, Setelah beberapa lamanya mengembara akhirnya arja jasa mendapatkan jawaban dari petunjuk tersebut , Petunjuk tersebut mengantarkannya ke sebuah desa , disana Dia menemukan sebuah keris di sebuah desa yang sebelumnya tak bernama, dan kemudian desa tersebut diberi nama yang kini dikenal sebagai desa arjasa. Kemudian  setelah itu, arya jasa kembali mengembara ke tempat lain untuk menyusuri pulau kangean, dia berjalan ke bagian timur, ditempat itu arya jasa melakukan persemedian untuk memanggil romonya agar segera menemuinya di sebuah desa yang sekarang bernama sambakati. Sambakati ber-makna “sembah bakti” yaitu karena ditempat itu merupakan tempat penyerahan keris yang telah ditemukan oleh arya jasa , hasil dari pengembaraannya tersebut. Kepada orang tuanya Keris tersebut diberikan di desa itu sebagai bentuk sebuah bakti putranya demi kesejahteraan rakyat kerajaan. Perjalanan arya jasa tidak berhenti sampai disini, dia kembali berkelana ke belahan barat pulau kangean , kembali dia menempati sebuah kampung  di desa arjasa yang dinamai “Kettheb” . Konon kampung tersebut dinamai “Kettheb” dikarenakan pada waktu itu para penduduk kampong disana mayoritas menjadi khotib (imam jum’at).
Versi yang ke dua, Konon juga diceritakan Bahwa Pulau Kangean itu ialah hanya sebuah hutan, sehingga suatu sa’at datang seorang putri dari kerajaan madura yang bernama putri koneng, Putri koneng tersebut mendatangi kangean dengan berlayar, Tujuannya pergi kesana karena ketika itu putri koneng tengah dimabuk cinta pada seorang sosok joko tole. Namun ayahnya (Raden fatahillah) tidak merestui hubungan mereka berdua, suatu kesedihan yang sangat melukai perasaannya sehingga dia berniat untuk meninggalkan kerajaan kemudian tinggal dipulau kangean tersebut. Berita kepergian putri koneng didengar oleh joko tole dan akhirnya dia berusaha untuk mencari dimana keberadaan putri koneng, dia mencari dan terus mencari dimana keberadaan potre koneng tanpa henti dengan gigihnya dan tidak pernah menyerah. Dia menyusuri keseluruh tempat-tempat, Joko tole mencarinya hingga ke pulau kangean tersebut namun belum ada hasil yang pasti, Dia menyusuri seluruh pelosok pulau kangean tanpa hentinya, namun putri koneng belum juga ditemukan.
Di sisi lain, Ketika itu putri koneng tengah bertapa disebuah Gua yang kini dikenal dengan Gua koneng. Gua itu dinamakan gua koneng dikarenakan gua itu menjadi tempat pertapaan putri koneng menurut kepercayaan warga yang berada di sekitar gua itu.
Setelah beberapa lamanya, putri koneng menetap digua tersebut. Rasa jenuh dan bosan pun menghampiri potre koneng, Akhirnya putri koneng berkeinginan untuk mencari udara segar, putri koneng pergi kesebuah desa. Dan akhirnya tanpa dia sadari ketika itu joko tole menemukan keberadaan putri koneng . kemudian desa itu dinamakan desa arjasa karena desa itu telah berjasa mempertemukan joko tole dengan putri koneng.
Dari berbagai cerita yang sudah dipaparkan diatas,  berikut hanyalah sebatas pemikiran-pemikiran cerita beserta sejarah-sejarah dari orang-orang yang terdahulu . Dimana belum ada fakta yang konkrit, hanya sebatas cerita demi cerita dari orang-orang terdahulu.
Sekian, Mudah-mudahan cerita ini akan selalu diingat oleh masyarakat yang menempati desa tersebut, khususnya saya yang menjadi salah satu penduduk disana.

Sumber : https://ensiklopedimadura.wordpress.com/2013/01/24/asal-mula-desa-arjasa-kangean/

Sejarah Madura

Sebelum abad ke 18, Madura terdiri dari kerajaan-kerajaan yang saling bersaingan, akan tetapi sering pula bersatu dengan melaksanakan politik perkawinan. Di antaranya kerajaan-kerajaan tersebut adalah Arosbaya, Blega, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.

Di samping itu kerajaan-kerajaan di Madura berada dibawah supermasi dari kerajaan yang lebih besar yang kekuasaannya berpusat di Jawa. Antara tahun 1100-1700, kerajaan-kerajaan itu berada dibawah supermasi kerajaan Hindu di Jawa Timur, kerajaan-kerajaan Islam dipesisir Demak dan Surabaya serta kerajaan Mataram di Jawa Tengah.


Peda pertengahan abad ke 18, Madura berada di bawah pengarush VOC/Kompeni Belanda. Setelah Kompeni dibubarkan pada tahun 1879, Madura dengan berangsur-angsur menjadi bagian dari Kolonial Belanda sampai dengan masa pendudukan Bala Tentara Jepang.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Pulau Madura berstatus sebagai Karesidenan dalam Provinsi Jawa Timur. Pada akhir tahun 1947, Madura diduduki kembali oleh Pemerintah Penjajah Belanda. Untuk memperkuat cengkramannya atas Pulau Madura, seperti halnya terhadap daerah lainnya di Indonesia yang didudukinya, pada tahun 1948 Pemerintah Penjajah Belanda membentuk Negara Madura. Status sebagai negara tersebut berlangsung sampai kurun waktu pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat pada tahun 1949-1950 oleh Belanda.

Dalam Negara Republik Indonesia Serikat (RIS), Madura merupakan salah satu Negara Bagian bersama-sama dengan Negara-Negara Bagian lainnya, seperti Republik Indonesia Yokyakarta, Indonesia Timur, Pasundan, Sumatra Timur, Sumatra Selatan, Jawa Timur, Kalimantan Barat. Status Madura di dalam wadah RIS hanya berusia pendek, karen pada tahun 1950 itu juga Rakyat Madura telah membubarkan Parlemen dan Negara Madura, dan kembali bergabung dengan Republik Indonesia (kesatuan di Yogyakarta).

Semangat Berjuang Melawan Penindasan dan Penjajahan

Sejak jaman dahulu kala, orang-orang Madura memiliki semangat untuk melawan segala bentuk penindasan dan penjajahan baik yang dilakukan oleh kekuasaan dan kekuatan dari luar. Hal tersebut dapat kita ketahui baik dari legenda-legenda yang berkembang di kalangan rakyat Madura maupun buku-buku/tulisan-tulisan dan laporan-laporan penguasa yang pernah memerintah Pulau Madura.

1. Menurut cerita jaman kuno (± abad pertama Masehi), yang ditulis diatas daun lontar, pada suatu saat kerajaan Mendangkawulan kedatangan musuh dari negeri Cina. Didalam peperangan tersebut Mendangkawulan berkali-kali menderita kekalahan, sehingga kedatangan seorang yang sangat tua dan berkata bahwa di Pulau Madu Oro (Madura) bertempat tinggal anak muda bernama Raden Segoro (Segoro = laut). Raja dianjurkan minta bantuan kepada Raden Segoro jika didalam peperangan ingin menang. Raden Segoro berangkat dengan membawa senjata Si Nengolo dan berperanglah untuk mengusir tentara Cina. Tentara musuh banyak yang tewas dan kerajaan Mendangkawulan menang dalam peperangan.

2. Cerita lain tentang kepahlawanan oerang-orang Madura, ialah terjadi sekitar berdirinya kerajaan Majapahit dalam abad ke 13, orang Maduralah yang membuka hutan Tarikdan mendapat bauh maja yang pahit, sehingga daerah baru tersebut disebut Majapahit. Tokoh-tokoh Madura di antaranya ialah Wiraraja, Lembu Sora, Ranggalawe, yang membantu Raden Wijaya sehingga mencapai punjak keberhasilannya dalam mendirikan kerajaan. Sewaktu Raden Wijaya dikejar oleh tentara Jayakatwang dan kerajaan Singosari runtuh, ia mengungsi ke Sumenep minta perlindungan dan bantuan kepada Raden Wiraraja dan sang Adipati Madura inilah yang menyusun rencana agar Raden Wijaya pewaris tahtakerajaan Singosari dapat kembali berkuasa. Memang Wiraraja atau yang disebut Banyak Wide adalah aktor intelektualitas yang memenangkan perang terhadap tentara Tartar yang dikirim oleh Kubelai Khan untuk menaklukkan kerajaan Jawa.

Tentara Tartar mengalahkan kerajaan Jayakatwang Kediri,tetapi tentara Tartar ini pula dihancurkan oleh Raden Wijaya dengan bantuan orang-orang Madura yang bersemangat tinggi dalam berperang untuk mengusir musuh.

3. Peristiwa lain terjadi disekitar abad ke 15, ketika Dempo Awang (Sam Poo Tualang) seorang Panglima Perang dari Negeri Cina nenunjukkan kekuasaannya kepada raja-raja di Jawa dan Madura, agar mereka tundek kepadanya. Didalam peperangan itu, Jokotole dari Madura melawan Dempo Awang yang menaiki kapal layar yang dapat berlayar di laut, diatas gunung diantara bumi dan langit. Demikian menurut cerita legenda. Didalam peperangan itu Jokotole mengendarai Kuda Terbang, pada suatu saat setelah ia mendengar suara dari pamannya (Adirasa), yang berkata "pukul", maka Jokotole menahan kekang kudanya dengan keras dan ia menoleh sambil memukul cemeti (cambuknya) mengenai musuhnya sehingga hancur luluh jatuh berantakan.

Menurut kepercayaan orang bahwa kapal Dampo Awang tersebut hancur luluh ketanah tepat di atas Bancaran (artinya, bâncarlaan), Bangkalan. Sementara Piring Dampo Awang jatuh di Ujung Piring yang sekarang menjadi nama desa di Kecamatan Kota Bangkalan. Sedangkan jangkarnya jatuh di Desa/Kecamatan Socah. Dan menurut cerita bahwa Sam Poo Tualang tersebut adalah seorang Laksamana Cina yang bernama Cheng Hoo.

4. Sewaktu Sultan Agung memimpin Mataram, Ia menjalankan politik pemerintahan untuk mempersatukan Jawa dan Madura, bahkan ingin mempersatukan seluruh kepulauan Nusantara, agar Kompeni sukar melebarkan sayapnya. Karena itu Sultan Agung kadang-kadang menjalankan politik kekerasan. Dalam tahun 1614 Surabaya ditaklukkakn, demikian pula Pasuruan dan Tuban. Akhirnya dalam tahun 1624, Madura mendapat giliran. Pendekatan yang kurang bijaksana menimbulkan peperangan yang dahsyat. Tentara Madura yang berjumlah 2.000 orang melawan pasukan Mataram yang berjumlah 50.000 orang. Perjuangan Rakyat Madura menunjukkan keberanian yang luar biasa, baik pria maupun wanita maju ke garis depan.

Sebanyak 6.000 orang tentara Mataram dapat ditewaskan, tetapi Sultan Agung tidak putus asa, yang gugur segera diganti. Akhirnya Madura dapat ditaklukkan. Satu-satunya keturunan raja Madura yang masih hidup adalah Raden Praseno yang masih belum dewasa. Ia dibawa ke Mataram oleh Sultan Agung dan setelh dewasa dikawinkan dengan salah seorang putri adik Raja Mataram.

Dalam jaman Sultan Agung, Mataram ditakuti oleh Kompeni Belanda, tetapi setelah Amangkurat I berkuasa, Kompeni menjalankan politik pecah belah dan Amangkurat I tidak mempunyai kewibawaan.

Pangeran Alit (adiknya sendiri) dicurigai dan diperintahkan untuk ditangkap dan dibunuh. Raden Maluyo ayah dari Trunojoyo juga menjadi korman. Akhirnya juga Cakraningrat I (Raden Praseno), penasehat umum kerajaan menjadi korban pembersihan.

Trunojoyo maju ke depan hanya karena terdorong untuk membasmi ketidakadilan, kemungkaran dan anti penjajahan. Bukan kekuasaan dan kedudukan yang menjadi tujuan hidup Trunojoyo, dan ini terbukti waktu mahkota kerajaan Majapahit ada ditangan kekuasaannya. Mahkota ini secara turun-temurun jatuh ketangan raja-raja yang menguasai Jawa. Trunojoyo tidak pernah menempatkan mahkota Majapahit diatas kepalanya, pun juga tidak pernah menamakan dirinya sebagai Sesuhunan. Mahkota yang ada ditangannya dikembalikan kepada Susuhunan, asal saja Susuhunan mau ke Kediri dengan tidak berteman dengan Belanda (artinya: Amangkurat II diminta untuk memutuskan hubungannya dengan Belanda).

5. dalam abad ke 18 Kompeni Belanda mengadakan pembatasan-pembatasan serta penindasan-penindasan yang makin merajalela terhadap kekuasaan raja-raja dan rakyat Madura, sehingga di Madura Barat telah terjadi suatu perlawanan yang dipimpin oleh Cakraningrat IV. Tetapi perlawanan tersebut dapat dipatahkan karena Kompeni mendatangkan bala bantuan dari Batavia. Cakraningrat IV terus menyingkir ke Banjarmasin, tetapi akhirnya tertangkap pula disana, Cakraningrat IV terus dikirim ke Kaap de Goede Hoop, dan ia meninggal dunia disana pada tahun 1759.

Orang Madura memberinya nama Pangeran Sidengkap, karena Cakraningrat IV meninggal dunia di tempat pengasingannya yakni Kaap de Goede Hoop.

6. dalam masa pemerintahan Jepang, sejak tanggal 18 Agustus 1942, kekejaman tentara Jepang yang menginjak-nginjak nilai dan martabat rakyat Madura, serta keangkaramurkaannyatelah menimbulkan penderitaan yang membebani rakyat, sehingga ada tahun 1943 telah berkobar suatu pemberontakandi Desa Prajan, Sampang yang dipimpin pesantren setempat.

Kemudian ia dan serta pemimpin-pemimpin pesantren lainnya ditangkap dan ditembak mati. Akhirnya atas campur tangan Panglima Tentara Jepang (Seiko Sisikan) di Jakarta, mereka yang masih ditahan dibebaskan kembali dan pembantaian lebih lanjut dapat dihentikan.

Sampang #1

Sesudah seluruh Mataram dikuasai oleh Sultan Agung, maka Cakraningrat I dipercayai memimpin pulau ini dengan berkeraton di Sampang tetapi ia sering tidak ada di Sampang karena oleh Sultan Agung tenaganya Di butuhkan di Mataram.

Pada suatu waktu ia pulang dari Mataram isterinya (Ratu Ibu) menceritakan bahwa ia seperti kedatangan Nabi Hedir, menanyakan apa yang ia cita-citakan lalu ia menjawab bahwa ia ingin ketujuh keturunannya memegang pemerintahan, Cakraningrat I sepertinya ia tidak puas dengan cerita isterinya, mengapa tidak menjawab untuk keturunan seterusnya, Ratu ibu merasa menyesal dan meneruskan tapanya di Air Mata sampai ia meninggal dunia dan dimakam kan ditempat itu pula, Cakraningrat I meninggal dunia di Mataram karena sengketa dengan Pangeran Alit, karena ia menghalang halangi untuk membunuh kakaknya ialah Sunan Amangkurat I.

Cakraningrat II menggantikan ayahnya dan setelah Trunojoyo dikalahkan keratonnya dipindah dari Sampang ke Tonjung. Pada waktu itu Madura pecah menjadi dua ialah Madura Timur dan Madura Barat (lihat pada perang Trunojoyo) setelah Keraton Sampang dipindah ke Tonjung maka yang memerintah di Sampang ialah Raden Ario Purbonagoro putera Cakraningrat II, selanjutnya lagi digantikan oleh puteranya yang bernama Purbonagoro Ganta' yang terahir Sampang dikuasai oleh keturunan Purbonagoro yang lazim disebut Ghung Purba, kuburan Ghung Purba ini masih dianggap kearmat oleh orang-orang Sampang ialah yang terletak di sebelah selatan Perumahn Pegadaian Sampang.

Selanjutnya Sampang dipimpin oleh Raden Ario Mlojokusumo seorang keturunan dari Bangkalan, sesudah itu Madura langsung diperintahkan oleh pemerintah Hindia Belanda dan yang ditunjuk sebagai Bupati Sampang ialah Raden Ario Kusumadiningrat (tahun 1885). Setelah Kusumodiningrat meninggal dunia diganti oleh Raden Tumenggung Ario Condronegoro. Setelah Bpati Condronegoro meninggal dunia diganti oleh Raden Adipati Ario Setyodiningrat dari Bangkalan, pada tahun 1913 ia mengundurkan diri dan diganti oleh raden Adipati Ario Cakraningrat. Yang menggantikannya di Sampang ialah Raden Tumenggung Kartoamiprojo, kemudian dipindah menjadi Bupati Pamekasan dengan gelar Adipati Ario Kartoamijoyo. Disampang diganti oleh Raden Ario Sosro Winoto.

Pada Tahun 1931 setelah ia mengundurkan diri dengan pensiun, lalu Sampang dirubah statusnya hanya sebagai Kawedanan saja. Pada tahun 1949 pemerintahan Madura Samoang dijadikan Kabupaten lagi dengan Raden Tumenggung Mohammad Eksan dan diangkat sebagai bupatinya lagi. Setelah muhammad Eksan mengundurkan diri dengan hak pensiun maka Raden Soeharjo ditunjuk sebagai gantinya.

Sebagai pelaksana UU Pokok No.1 Tahun 1957, maka K.H. Achmad Zaini dipilih sebagaiKepala Daerah Tingkat II Sampang sampai UU itu dibekukan dan diganti dengan Penpres No 6 Tahun 1959 aka dualisme kepemimpinan di daerah dihapus.

Selanjutnya melalui pencalonan DPRD-GR Kabupaten Sampang, maka M. Wali Hadi diangkat sebagai Bupati kepala Daerah Kabupaten Sampang Tahun 1960 sampai Tahun 1965. Setelah Wali hadi Mengundurkan diri, R.S. Hafidz Soeroso B.A dicalonkan sebagai gantinya oleh DPRD-R dan diangkat oleh Pemerintah Pusat untuk memegang jabatan Bupati Kepala Daerah Kabupaten Sampang.

Sampang #2

Pada Zaman Majapahit di Sampang ditempatkan seorang Kamituwo yang pangkatnya hanya sebagai patih, jadi boleh dikatakan kepatihan yang berdiri sendiri. Sewaktu Majapahit mulai mundur di Sampang berkuasa Ario Lembu Peteng, Putera Raja Majapahit dengan Puteri Campa, LembuPeteng akhirnya pergi memondok di Ampel dan meninggal disana.

Yang mengganti Kamituwo di Sampang adalah puterayang tertua ialah Ario Menger yang keratonnya tetap di Madekan. Menger berputera 3 orang laki-laki ialah Ario Langgar, Ario Pratikel (ia bertempat tinggal di Pulau Gili Mandangil atau Pulau Kambing) dan Ario Panengah gelar Pulang Jiwo bertempat tinggal di Karangantang.

Pratikel mempunyai anak perempuan yang kawin dengan Ario Pojok dan mempunyai anak bernama Kiyai Demang (Demangan adalah tempat kelahirannya) setelah Demang menjadi dewasa ia sering pergi ke tempat tempat yang dipandang keramat dan bertapa beberapa hari lamanya disana, pada suatu waktu ia sedang tertidur dipertapaannya ia bermimpi supaya ia terus berjalan kearah Barat Daya kedesa Palakaran.

Setelah Demang bangun ia terus pulang dan minta ijin pada orang tuanya untuk memenuhi panggilan dalam mimpinya, ayah dan ibunya sebenarnya keberatan tetapi apa dikata, kehendak anaknya sangat kuat. Menurut cerita Demang terus berjalan kearah Barat Daya diperjalanan ia makan ala kadarnya daun-daun, buah-buahan dan apa saja yang dapat dimakan, dan kalau malam ia tertidur dihutan dimana ia dapat berteduh.

Pada suatu waktu ketika ia berhenti melepaskan lelah tiba-tiba datang seorang perempuan tua memberikan bingkisan dari daun-daun, setelah bingkisan dibuka terdapatlah 40 buah bunga nagasari, diamana ada Pohon Nagasari? Perempuan tua itu menjawab bahwa pohon yang dimaksud letaknya didesa Palakaran tidak beberapa jauh dari tempat itu.

Dengan diantar perempuan tua tersebut Demang terus menuju kedesa Palakaran dan diiringi oleh beberapa orang yang bertemu diperjalanan. Sesampainya didesa itu mereka terus beristirahat ditempat pengantarnya sambil menikmati hidangan yang lezat-lezat yang menghidangkan ialah, Nyi Sumekar puteri dari janda itu. Tidak bberapa lam Demang jatuh cinta pada perempuan itu dan mereka kawin, kemudian mereka mendirikan rumah besar, yang kemudian oleh orang-orang disebut keraton kota Anjar (Arosbaya) dari perkawinan Sumekar dan Demang lahirlah beberapa orang anak dengan nama-nama sebagai berikut :

1. Kiyahi Adipati Pranomo
2. Kiyahi Pratolo
3. Kiyahi Pratali
4. Pangeran Panagkan dan
5. Kiyahi Pragalbo.

Pada sauatu saat Demang Palakaran bermimpi bahwa kemudian hari yang akan menggantikan dirinya ialah Kiyahi Pragalbo yang akan menurunkan pemimpi2 masyarakat yang baik, putera yang tertua Pramono oleh ayahnya disuruh bertempat tinggal di Sampang dan memimpin pemerintah dikota itu. Ia kawin dengan puteri Wonorono di Pamekasan karena itu ia juga menguasai Pamekasan jadi berarti Sampang dan Pamekasan bernaung dalam satu kerajaan, demikian pula sewaktu Nugeroho (Bonorogo) menggantikan ayahnya yang berkeraton di Pamekasan dua daerah itu masih dibawah satu kekuasaan, setelah kekuasaan Bonorogo Sampang terpisah lagi dengan Pamekasan yang masing-masing dikuasai oleh Adipati Pamadekan (Sampang) dan Pamekasan dikuasai oleh Panembahan Ronggo Sukawati, kedua-duanya putera Bonerogo.

Kemudian Sampang diperintah oleh Pangeran Adipati Mertosari ialah cucu dari puteri Pramono putera dari Pangeran Suhra Jamburingin, demikianlah diceritakan bahwa memang menjadi kenyataan Kiyahi Demang banyak menurunkan Raja-Raja di Madura.

Jokotole

Setelah Jokotole selesai melakukan peperangan ia kembali ke Sumenep, tidak lama kemudian datanglah Adipodaj (ayah dari Jokotole) untuk menjumpai ibu Jokotole (Puteri Kuning).

Pulau Sapudi

Setelah beberapa hari ke Sumenep, Ia lalu ke Sepudi membawa Puteri Kuning, pada waktu itu di Sepudi yang memerintah ialah nenek Jokotole Panembahan Blingi (Wilingi), setelah itu beliau meninggal dunia, setelah itu Adipodaj menggantikan ayahnya dengan gelar Penembahan Wiroakromo, menjalankan pemerintahan didaerah sekitar Sepudi, Panembahan ini dikenal sudah memeluk Islam siang dan malam suka memegang tasbih dari buah pohon Nyamplong, karena itu banyaklah orang menanam pohon Nyamplong tersebut. Keraton yang ia tempati disebut orang Desa Nyamplong, Adipodaj juga meninggal ditempat itu dan kuburannya disebut Asta Nyamplong yang hingga sekarang masih juga banyak orang yang berkunjng untuk berziarah.

Diceritakan bahwa Adipodaj memang menjalankan pemerintahannya dengan sangat bijaksana dan apa yang menjadi cita citanya dapat direalisir dengan baik, pohon nyamplong yang dianjurkan ditanam ternyata kayunya sangat baik untuk dijadikan alat-alat perahu, Pulau Sepudi dari dulu terkenal dengan sapinya yang sapi itu dilombakan di Madura dan terkenal dengan sebutan 'Kerapan Sapi'.

Menurut keterangan orang hal itu terjadi karena cara-cara Adipodaj memelihara ternak itu tetap tertanam dalam hati dan sanubari rakyat dan rakyat tidak berani merubahnya, petunjuk-petunjuk Adipodaj dalam memelihara ternak dan pertanian dianggap mempunyai kekuatan magis untuk diikutinya dan pelanggaran-pelanggaran dianggap dapat menimbulkan bahaya juga menjadi kebiasaan warga Sepudi, jika ada wabah penyakit menyerang penduduk disana mereka mengeluarkan alat-alat peninggalan Adipodaj (Calo', kodi, dsb) untuk diarak guna menolak adanya wabah penyakit tersebut.

Pulau Kaangean

Pulau lain yang perlu disebut ialah pulau Kangean pulau ini juga sudah terkenal sejak Zaman Majapahit. Empu Prapanca dalam kitabnya Negara Kertagama menulis sebagai berikut :

Syair 15 ( 2 )
Kunang tekang nusa Madura tanami Iwir parapuri
Ir denya tunggal mwang Yawadharani rakwekana
Dengu ............................

Syair 14 ( 5 )
Ingkang sakanusa Makasar butun Bangawi
Kuning Ggaliyao mwang ing Salaya Sumba Solot
Muar .................................

Jadi Pulau Kangean pada Zaman Majapahit disebut Galiyao. Di pulau itu pada saat itu sudah ditempatkan seorang Adipati, semula tempat tersebit adalah pembuangan bagi orang orang yang mendapt hukuman berat dari Raja. Tetapi kerena tanahnya subur (sawah, ladang) dan banyaknya penghasilan yang didapat dari lautan (ikan) beserta hasil hutannya maka lambat laun pulau itu menjadi pusat perdagangan serta banyak orang dari Sumenep dan dari daerah lain yang menetap di Kangean.

Diceritakan bahwa Jokotole (Setyoadiningrat III) memegang pimpinan pemerintahan di Sumenep sampai berumur lanjut dengan sangat memuaskan bagi lapisan masyarakat. Pada suatu saat datanglah utusan dari bali dengan menaiki sebuah kapal dan membawa surat bahwa putera mahkota Bali akan datang berkunjung ke Sumenep, kedatangan mereka di sambut baik oleh Raja Sumenep, akan tetapi setelah sampai ke Istana mereka ngamuk-ngamuk sehingga banyak orang-orang yang terluka atau mati terbunuh begitu juga dengan Jokotole ia mendapat luka-luka dan dibawa lari Lapataman dengan dipikul memakai tandu menuju ke keraton lama di Banasareh tetapi diperjalanan Jokotole meninggal dunia, sukar sekali dicari air untuk memandikan jenazah, karena itu Raden Ario Begonondo (putera Jokotole) menancapkan tongkat ibunya yang dipakai di Socah dan keluarlah air dari tanah.lalu tempat itu disebut Sa-Asa yang artinya tempat untuk mencuci Jokotole dan sekarang termasuk kecamatan Manding, adik dari Jokotole yaitu Jokowedi segera datang untuk membantunya setelah orang-orang Bali melihat Jokowedi yang mirip sekali dengan kakaknya mereka ketakutan dan lari tunggang langgang ke kapalnya.

Cerita kehidupan jokotole banyak mengandung "Legenda" dan kami telah mengadakan peninjauan kemakam Adipodaj dan Jokotole di Kuburan Nyamplong kedua kuburan yang dianggap keramat oleh rakyat itu tidak menunjukan bentuk kuburan jaman Jokotole kemungkinan besar bentuk kuburan yang lama sudah diganti dengan bentuk kuburan jaman sekarang.

Ratu Bangkalan #1

Dalam literatur perkembangan Islam di Madura, sosok Raden Abdul Kadirun memang tidak banyak disebut. Sultan Bangkalan II ini memang lebih dikenal sebagai tokoh pemerintahan yang ulung.

Mewarisi Pemerintahan Sultan Bangkalan I (Sultan Abdul/Panembahan Adipati Tjakraadiningat I), Raden Abdul Kadirun berjasa memajukan wilayah di ujung Barat Madura ini. Tapi itu tidak serta merta menghapuskan perannya dalam penyebaran Islam. Raden Abdul Kadirun dikenal menjalankan pemerintahannya dengan prinsip-prinsip islami.

Saat memerintah pada 1815-1847 Islam berkembang dan menjadi warna yang dominan di masyarakat Bangkalan. Tak heran, Rato (pemimpin/pemerintah) ini begitu dihormati sosoknya. Tanda bahwa Sultan Abdul Kadirun begitu berjasa terhadap penyebaran Islam juga terlihat dari nisannya yang dibangun sedemikian megahnya, bak istana.

Terletak di sisi barat komplek Masjid Agung Bangkalan, makam Raden Abdul Kadirun ini selalu dipenuhi para peziarah, terutama saat Ramadan seperti sekarang ini. Siang, bahkan hingga larut malam alunan ayat suci Alquran berkumandang tanpa henti. Nyaris tidak ada tempat kosong di setiap sudut ruang komplek makam maupun masjid.

Nuansa bangunan kuno begitu kental dengan ukiran motif bunga dan lambang-lambang perjuangan saat mengusir penjajah. Salah satu nisan makam ada yang berbentuk mahkota kerajaan. Ini merupakan sebagai simbol seseorang yang masih keturunan pemimpin. Juru kunci makam Achmad Yahya mengatakan Raden Abdul Kadirun merupakan tokoh penting dalam sejarah Bangkalan, bahkan merupakan seorang pemimpin atau Bupati pertama yang berjuang melawan penjajah belanda.

Raden Abdul Kadirun merupakan keturan Ratu Ibu, yang terletak di Arosbaya. Yahya menambahkan, Raden Abdul Kadirun yang bergelar Sultan Cakra Adiningrat II ini juga masih mempunyai garis keturunan dengan Brawijaya. "Beliau mempunyai 16 orang anak, saat ini masih ada keturunannya dan sering nyekar ke komplek makam ini," terang pria sepuh ini.

Komplek makam tersebut, bisa dikatakan merupakan komplek makam keluarga. Hampir seluruh kerabat Sultan disemayamkan di sini. Bahkan, istri tercinta Sultan yakni R. Ayu Masturah atau Ratu Ajunan, beserta beberapa orang putranya disemayamkan secara bersebelahan dan berada dalam satu cungkup. Komplek makam bagian dalam yang dibangun sejak 1848 tertera jelas didominasi kultur Jawa.

"Berdasarkan pengakuan para ahli warisnya, Sultan masih keturunan Jawa dan senang wayang kulit," ungkap Yahya. Sementara itu, Muadzin Masjid Agung Bangkalan, Supardi mengatakan, jumlah pengunjung masjid dan komplek makam terus meningkat. Kebanyakan ingin beritikaf atau mengkhatamkan Alquran.

Sehingga, ketika Pangeran Cakraningrat I dan Raden Maluyo, ayahanda Pangeran Tronojoyo, gugur di medan pertempuran membela kedaulatan Mataram saat terjadi pemberontakan oleh Pangeran Alit, ternyata Sunan Amangkurat I memilih mengangkat Raden Undagan yang juga paman Pangeran Tronojoyo sebagai raja di Madura Barat dengan gelar Cakraningrat II.

Padahal, bardasarkan garis keturunan kerajaan Madura Barat, sebenarnya Pangeran Tronojoyo paling berhak meneruskan dinasti kerajaan kakeknya Pangeran Cakraningrat I. Namun, karena ambisi kedua kakek dan pamannya ini serta politik devede et impera yang dilakukan Belanda, akhirnya Pangeran Tronojoyo tersingkir dari kursi singgasana Kerajaan Madura Barat.

Akhirnya, Pangeran Tronojoyo pun melakukan pemberontakan. Ini terjadi sekitar tahun 1648 M. Pangeran Cakraningrat II lalu memindahkan kembali istana Kerajaan Madura Barat dari Madegan, Kelurahan Polagan, Sampang ke Desa Pelakaran, Arosbaya, Bangkalan. Karena pada saat itu, pasukan Pangeran Tronojoyo yang tidak mau bekerja sama dengan penjajah Belanda berhasil membumihanguskan istana kerajaan di Madegan.

Sejak saat itulah, sejarah keberadaan dinasti Kerajaan Madura Barat yang pernah mengalami masa kejayaannya di Madegan, Polagan, Sampang mulai memudar, bahkan menghilang. Ditambah lagi, setelah Pangeran Tronojoyo gugur dalam medan pertempuran melawan kebatilan yang dilakukan kedua kakek dan pamannya serta mengusir penjajah Belanda dari bumi pertiwi.

Menurut ahli sejarah Sampang Drs. Ali Daud Bey, sampai saat ini silsilah keturunan Pangeran Tronojoyo yang dilahirkan di Kampung Pebabaran Rongtengah, Sampang ini, belum ditemukan. Karena dari buku-buku literatur para pakar sejarawan Belanda, tidak ada satu pun yang menulis tentang perjuangan Pangeran Tronojoyo dalam melakukan pemberontakan mengusir penjajah Belanda dari daerah kekuasaan Mataram.

Setelah abad 17 M, status Kabupaten Sampang menjadi sebuah daerah Kadipaten, dengan Adipatinya masing-masing, R. Temenggung Purbonegoro, R. Ario Meloyokoesuma (Reight Besfuurder Gebheid). Dan sejak 15 Januari 1885 dipimpin oleh Adipati R. Temenggung Ario Koesuma Adiningrat (Zelfstending).

Lalu, berturut-turut dipimpin oleh R. Temenggung Ario Candranegoro, R. Adipati Ario Secodiningrat, R. Ario Suryowinoto, dan R. Temenggung Kartoamiprojo. Sedangkan pada tahun 1929 - 1931 M dipimpin oleh R. Ario Sosrowinoto. Sebelum akhirnya pada sekitar tahun 1931-1949 M, Kadipaten Sampang menjadi sebuah daerah Kawedanan di wilayah Kabupaten Pamekasan.

Ratu Bangkalan #2

Warga Kabupaten Bangkalan tentunya boleh berbangga hati, lantaran disana menyimpan beribu macam potensi wisata yang tidak ada duanyadi kota lain di wilayah Pulau Madura. Karena disana terdapat sebuah makam seorang ibu, menurut ceritanya yang melahirkan raja-raja Madura. Bangunan berusia ratusan tahun tersebut, hingga kini masih berdiri kokoh. Obyek wisata ziarah itu merupakan salah satu asset Kabupaten Bangkalan, yeng ternyata tetap terawat baik.

Makam Rato Ebu terletak didalam kompleks Paserean 'Aer Mata', terletak 25 km arah Utara kota Bangkalan, tepatnya di desa Buduran Kecamatan Arosbaya Kabupaten Bangkalan. Makam Rato Ebu adalah makam seorang wanita mulia bernama Syarifah Ambami. Menurut dokumen sejarah, menyebutkan bahwa Syarifah Ambami adalah keturunan Sunan Giri Gresik ke 5. Ia dipersunting oleh Pangeran Tjakraningrat I yang juga anak angkat Sultan Agung Mataram. Dikisahkan bahwa sejak terjadinya Perang Mataram tahun 1624, Madura dikuasai oleh Sultan Agung. Lalu ia menginginkan agar Pangeran Tjakraningrat I memerintah Madura secara keseluruhan. Titah raja pun dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Meskipun Madura menjadi daerah kekuasaannya, namun Pangeran Tjakraningrat justru jarang sekali tinggal di Sampang. Apalagi Raja Mataram, Sultan Agung, masih membutuhkan tenaganya untuk memimpin kerajaannya di tanah Jawa sehingga Pangeran Tjakraningrat I sering tinggal di kerajaan tanah Jawa. Wajar apabila Ratu Syarifah lebih banyak tinggal di Kraton Sampang sendirian tanpa didampingi suami tercintanya. Namun Ratu Syarifah adalah seorang figur wanita yang taat dan patuh pada semua perintah suaminya. Maka untuk mengisi waktu kosongnya, Ratu Syarifah yang lebih populer dengan sebutan Ratu Ibu tersebut lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bertapa di seatu bukit di Desa Buduran Kecamatan Arosbaya.

Didalam legenda sejarah Babat Madura dikisahkan, bahwa selama dalam pertapaannya, Ratu Ibu Syarifah senantiasa memohon kepada Allah SWT. agar keturunannya yang laki-laki kelak bisa menjadi pucuk pimpinan pemerinytahan di Madura. Ia berharap agar pimpinan Pemerintahan tersebut dijabat hingga tujuh turunan. Anehnya dalam legenda tadi juga dikisahkan bahwa suatu hari didalam pertapaannya, Ratu Ibu Syarifah berjumpa dengan Nabi Khidlir AS. Dalam pertemuannya yang Cuma sesaat itu, sepertinya semua permohonan Ratu Ibu akan dikabulkan.

Merasa pertapaannya sudah cukup, maka Ratu Ibu Syarifah pun kembali ke Kraton Sampang. Tidak selang beberapa lama, suaminya yakni Paneran Tjakraningrat I datang dari bertugas di Kerajaan Mataram.sebagai istri yang setia, tentu saja Ratu Syarifah menyambut kedatangan suaminya dengan senang hati. Beliau bahkan menceritakan apa yang dialaminya selama bertapa, termasuk adanya petunjuk bahwa permohonannya agar turunannya kelak memimpin Pemerintahan di Madura dikabulkan juga diceritakannya dengan runtun.

Mendengar penuturan Ratu Syarifah tersebut, Pangeran Tjakraningrat I marah, ia sangat kecewa dengan pernyataan istrinya. Sebaliknya Pangeran Tjakraningrat I bertanya dengan marah, "Mengapa kamu cuma memohon untuk tujuh turunan, sebaiknya kan tututan kita selamanya harus memerintah di Madura!", tegur Pangeran Tjakraningrat I kepada Ratu Syarifah. Wanita itupun cuma menundukkan kepala.

Sepeninggal suaminya yang bertugas ke Mataram, Ratu Syarifah kembali ke Desa Buduran untuk bertapa. Dalam pertapaannya itulah Ratu Ibu memohon agar keinginan seaminya untuk menjadikan seluruh keturunannya bisa menjadi pemimpin Pemerintahan di Madura.siang malam Ratu Ibu memohon kepada Allah SWT. agar harapan suaminya bisa dikabulkan, ia memohon sambil terus menangis. Ini dilakukannya hingga meninggal di pertapaan, dalam keadaan menangis.

Ditempat pertapannya itulah Ratu Ibu dimakamkan. Itulah sebabnya, maka makam tersebut dikenal dengan sebutan Makam Ratu Ibu atau Aer Mata. Dikompleks Pasarean Aer Mata tadi juga dimakamkan raj-raja Madura, ternyata bangunan kuno dengan corak arsitekur bernilai tinggi itu menarik perhatian para wisatawan asing dan domestik. Tidak kalah menariknya dibandingkan kemegahan arsitektur Candi Borobudur atau lain di Jawa.

Konon menurut cerita legenda sejarah menyebut, bahwa konstruksi bangunan itu berdiri pada abad ke 15 atau ke 16 yang tersusun rapi, tanpa alat perekat dari semen. Mulai dari nisan, kerangka kuburannya, semuanya terukir indah yang terbuat dari batu putih mirip pualam yang diambil dari lokasi sekitar makam. Salah satu juru kunci makam, mengatakan bahwa peziarah yang datang dari tahun ke tahun ada peningkatan. Anehnya, meskipun banyak peziarah yang hilir mudik datang, namun kompleks pasarean itu tetap tampak bersih dan terkesan terawat baik.

Keindahan yang menonjol dan bernilai seni tinggi tersebut terletak pada tiga 'cungkup' utama makam yang berukuran 40 x 20, yakni makam Ratu Ibu Syarifah Ambami, Panembahan Tjakraningrat II dan Tjakraningrat III. Begitu juga 'cungkup' pada makam Panembahan Tjakraningrat V, VI dan VII yang disebut-sebut bergelar Tjakradiningrat I. Maka wajar apabila kelangkaan dan keindahan nilai seni dan arsitektur pada Pasarean Aer Mata menjadi perhatian Pemerintah, selanjutnya pada tahun 1975 kompleks Pasarean Aer Mata diikut sertakan dalam lomba dan pameran seni arsitektur peninggalan Purbakala se Asia mewakili Indonesia. Hasilnya mendapat nilai tertinggi.

Sejak itulah Pasarean Aer Mata di Kabupaten Bangkalan tidak saja dikenal wisatawan domestik, namun wisatawan asing berdatangan, selain wisatawan, juga para disiplin ilmu pengetahuan seperti arkeologi, antropologi dan sejarah, mereka datang dari dalam dan luar negeri, menjadikan kompleks Pasarean Aer mata sebagai riset ilmiahnya. Yang menarik untuk dijadikan bahan penelitian, lantaran gaya arsitektur dan seni ukir di Aer Mata mempunyai ciri khas perpaduan Hindu, Budha dan Islam.

Pasarean Aer Mata tadi pada tahun 1970 lalu terancam hancur. Diantara tiga Cungkup utama sebagai penyangga rapuh, beberapa "Kemuncak" (hiasan pagar) banyak berjatuhan disekitar kompleks, karena tidak terawat. Maka pada tahun 1978, Kasi Depdikbud Bangkalan yang saat itu dijabat oleh Ny. Hari Siyanto melaporkan tentang kondisi tempat bersejarah di Bangkalan kepada pemerintah Pusat. Rupanya laporan tadi mendapat perhatian besar sehingga dilakukan pemugaran pada tahun 1979 lalu dan 1987 diresmikan oleh Mendikbud Prof. Dr. Fuad Hasan.

Ada lima cungkup yang dipugar, antara lain :

CUNGKUP I
Terdapat 20 makam termasuk makam Ratu Ibu Syarifah Ambami.

CUNGKUP II
Terdapat 46 makam, diantaranya makam Pangeran Tjakraningrat II dan IV.

CUNGKUP III
Terdapat 24 makam diantaranya terdapat makam Panembahan Tjakra Adingrat I, PPA Tjakraningrat (Wali Negoro), dan RA. Moh. Roslan Tjakraningrat yang meninggal pada tanggal 23 Desember 1976.

CUNGKUP IV
Terdapat 11 makamdiantaranya kuburan Tumenggung Mloyo.

CUNGKUP V
Terdapat 10 makam dan dua antaranya terdapat makam Kolonel Suryo Adiningrat dan Mas Ayu Aminah.

Sultan Agung Bangkalan

sena, putera Pangeran Tengah dari Arosbaya disertai Pangeran Sentomerto, saudara dari ibunya yang berasal dari Sampang, dibawa oleh Panembahan Juru Kitting beserta 1000 orang Sampang lainnya ke Mataram. Di Mataram Prasena diterima dengan senang hati oleh Sultan Agung, yang sekanjutnya diangkat sebagai anak.

Bahkan, kemnudian Prasena dinobatkan sebagai penguasa Madura yang bergelar Cakraningrat I. Dia dianugerahi hadiah uang sebesar 20 ribu gulden dan berhak memakai payung kebesaran berwarna emas. Sebaliknya, Cakraningrat I diwajibkan hadir di Mataram setahun sekali. Karena selain menjadi penguasa Madura, dia juga punya tugas-tugas penting di Mataram. Sementara pemerintahan di Sampang dipercayakan kepada Pangeran Santomerto.

Cakraningrat I kemudian menikah dengan adik Sultan Agung, namun hingga istrinya, meninggal dia tidak mendapat keturunan. Kemudian Cakraningrat I menikah dengan Ratu Ibu, yang masih keturunan Sunan Giri. Dari perkawinannya kali ini dia menmpunyai tiga orang anak, yaitu RA Atmojonegoro, R Undagan dan Ratu Mertoparti. Sementara dari para selirnya dia mendapatkan sembilan orang anak, salah satu di antaranya adalah Demang Melaya.

Sepeninggal Sultan Agung tahun 1645 yang kemudian diganti oleh Amangkurat I, Cakraningrat harus menghadapai pemberontakan Pangeran Alit, adik raja. Tusukan keris Setan Kober milik Pangeran Alit menyebabkan Cakraningrat I tewas seketika. Demikian pula dengan puteranya RA Atmojonegoro, begitu melihat ayahnya tewas dia segera menyerang Pangeran Alit, tapi dia bernasib sama seperti ayahnya.

Cakraningrat I diganti oleh Undagan. Seperti halnya Cakraningrat I, Undagan yang bergelar Cakraningrat II ini juga lebih banyak menghabiskan waktunya di Mataram. Di masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan putra Demang Melaya yang bernama Trunojoyo terhadap Mataram.

Pemberontakan Trunojoyo diawali dengan penculikan Cakraningrat II dan kemudian mengasingkannya ke Lodaya Kediri. Pemberontakan Trunojoyuo ini mendapat dukungan dari rakyat Madura. Karena Cakraningrat II dinilai rakyat Madura telah mengabaikan pemerintahan Madura.

Kekuatan yang dimiliki kubu Trunojoyo cukup besar dan kuat, karena dia berhasil bekerja sama dengan Pangeran Kejoran dan Kraeng Galesong dari Mataram. Bahkan, Trunojoyo mengawinkan putrinya dengan putra Kraeng Galesong, unutk mempererat hubungan.

Tahun 1674 Trunojoyo berhasil merebut kekuasaan di Madura, dia memproklamirkan diri sebagai Raja Merdeka Madura barat, dan merasa dirinya sejajar dengan penguasa Mataram. Berbagai kemenangan terus diraihnya, misalnya, kemenangannya atas pasukan Makassar (mei 1676 ) dan Oktober 1676 Trunojoyo menang atas pasukan Mataram yang dipimpin Adipati Anom.

Selanjutnya Trunojoyo memakai gelar baru yaitu Panembahan Maduretna. Tekanan-tekanan terhadap Trunojoyo dan pasukannya semakin berat sejak Mataram menandatangani perjanjian kerjasama dengan VOC, tanggal 20 maret 1677. Namun tanpa diduga Trunojoyo berhasil menyerbu ibukota Mataram, Plered. Sehingga Amangkurat harus menyingkir ke ke barat, dan meninggal sebelum dia sampai di Batavia.

Benteng Trunojoyo sedikit demi sedikit dapat dikuasai oleh VOC. Akhirnya Trunojoyo menyerah di lereng Gunung Kelud pada tanggal 27 Desember 1679. Dengan padamnya pemberonrtakan Trunojoyo. VOC kembali mengangkat Cakraningrat II sebagai penguasa di Madura, karena VOC merasa Cakraningrat telah berjasa membantu pangeran Puger saat melawan Amangkurat III, sehingga Pangeran Puger berhasil naik tahta bergelar Paku Buwono I. Kekuasaan Cakraningrat di Madura hanya terbatas pada Bangkalan, Blega dan Sampang.

Pemerintahan Madura yang mulanya ada di Sampang, oleh Cakraningrat II dipindahkan ke Tonjung Bangkalan. Dan terkenal dengan nama Panembahan Sidhing Kamal, yaitu ketika dia meninggal di Kamal tahun 1707, saat dia pulang dari Mataram ke Madura dalam usia 80 tahun. Raden Tumenggung Sosrodiningrat menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Bupati Madura barat dengan gelar Cakraningrat III.

Suatau saat terjadi perselisihan antara Cakraningrat dengan menantunya, Bupati Pamekasan yang bernama Arya Adikara. Untuk menghadapi pasukan dari Pamekasan, Cakraningrat III meminta bantuan dari pasukan Bali. Dimasa Cakraningrat inilah Madura betul-betul bergolak, terjadi banyak peperangan dan pemberontakan di Madura.

Tumenggung Surahadiningrat yang diutus Cakraningrat untuk menghadapi pasukan Pamekasan ternyata menyerang pasukan Cakraningrat sendiri dengan bantuan pasukan Sumenep. Sekalipun Cakraningrat meninggal, pergolakan di Madura masih terus terjadi.

Cakraningrat III digantikan oleh Timenggung Surahadiningrat dengan gelar Cakraningrat IV. Awal pemerintahan Cakraningrat IV diwarnai banyak kekacauan. Pasukan Bali dibawah kepemimpinan Dewa Ketut yang sebelumnya diminta datang oleh Cakaraningrat III, datang dengan membawa 1000 prajurit.

Tahu yang meminta bantuan sudah meninggal dan situasi telah berubah, pasukan Bali menyerang Tonjung. Cakraningrat yang sedang berada di Surabaya memerintahkan adiknya Arya Cakranegara untuk mengusir pasukan Bali. Tetapi Dewa Ketut berhasil membujuk Cakranegara untuk berbalik menyerang Cakraningrat IV. Tetapi dengan bantuan VOC, Cakranoingrat IV berhasil mengusir pasukan Arya Cakranegara dan Bali.

Kemudian dia memindahkan pusat pemerintahannya ke Sambilangan. Suatau peristiwa yang terkenal dengan Geger Pacina (pemberontakan masyarakat Cina) juga menjalar ke Mataram. Cakraningrat IV bekerjasama dengan VOC memerangi koalisi Mataram dan Cina ini. Namun hubungan erat antar Madura denga VOC tidak langgeng. Cakraningrat menyatakan perang dengan VOC karena VOC telah berkali-kali melanggar janji yang disepakati.

Dengan bekerja sama dengan pasukan Mengui Bali, Cakraningrat berhasil mengalahkan VOC dan menduduki Sedayu, Lamongan, Jipang dan Tuban. Cakranoingrat juga berhasil mengajak Bupati Surabaya, Pamekasan dan Sumenep untuk bersekutu melawan VOC. Tapi Cakraningrat tampaknya harus menerima kekalahan, setelah VOC mengerahkan pasukan dalam jumlah besar. Cakraningrat dan dua orang putrinya berhasil melarikan diri ke Banjarmasin, namun oleh Raja Bajarmasin dia ditangkap dan diserahkan pada VOC.
Cakraningrat diasingkan ke Kaap De Goede Hoop (Tanjung Penghargaan). dan meninggal di tempat pembuangannya, sehingga dia juga dikenal dengan nama Panembahan Sidengkap

Islam di Madura

Seperti yang di kemukakan di atas bahwa Sunan Giri jang menyebarkan Agama Islam di Pulau Madura, akan tetapi sebelum itu sudah banyak pedagang-pedagang Islam misalnya dari Gujarat yang singgah dipelabuhan-pelabuhan pantai madura, terutama dipelabuhan kalianget. Antar aksi yang berpuluh-puluh tahun antara penduduk asli dengan para pedagang sebagai pendatang tentu membawa pengaruh terhadap kebudayaan dan kepercayaan mereka, diceritakan disuatu daerah didekat desa Persanga di Sumenep datang seorang penyiar Agama Islam.
Ia memberi pelajaran Agama Islam di Pulau Sumenep, diceritakan pula bahwa seorang santri telah dianggap dapat melakukan rukun agam Islam maka ia lalu dimandikan dengan air dengan dicampuri macam-macam bunga yang baunya sangat harum, dimandikan secara demikian disebut dengan "e dusdus", karena itu tempat dimana dilakukan upacara dinamakan desa "Padusan". Kampung Padusan ini termasuk desa Pamolokan kota Sumenep, guru yang memberi pelajaran agama itu disebut "Sunan Padusan" menurut riwayat hidupnya ia keturunan dari Arab ayahnya bernama Usman Hadji, anak dari Raja Pandita saudara dari Sunan Ampel. Pada waktu itu rakyat sangat suka mempelajari Agama Islam sehingga mempengaruhi kepada Rajanya ialah pangeran jokotole yang lalu masuk Islam.

Sunan Padusan itu lalu dipungut menjadi anak menantu Jokotole tempat tinggal Sunan padusan itu mula-mula di desa Padusan lalu pindah kekeraton Batuputih. Penyebaran agama Islam ini terus meluas tidak hanya di pantai-pantai Pulau Madura, tetapi juga sampai kepelosok-pelosok desa, karena itu penduduk Madura hingga sekarang boleh dikatakan 99% beragama Islam. Demikian pula kebudayaan Arab masuk ke Madura bersama meluasnya Agama Islam. Karena itu kesenian Hadrah, gambus, zamrah terdapat sampai kepelosok-pelosok desa dan kampung sehingga boleh dikatakan sudah menjadi kebudayaan Madura. 

Sumber : http://kabarmadura07.blogspot.co.id/2013/01/sejarah-madura.html